Make your own free website on Tripod.com

http://samusuru.tripod.com

Rahasia Illahi...

Halaman Utama
Isi Hati Kekasihku
Identitasku
Rahasia Illahi
Lirik Lagu
Untukmu Ibu...
Musik Online
Cari Berita
gallery...
Resonansi..

Tidak ada yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi hari ini , kecuali Allah Yang Maha Segala - galanya...

Kabar Kematian yang Membahagiakan...
 
Bila kamu shalat, jadikanlah itu seolah-olah shalat orang yang mengucapkan selamat tinggal" (Hadis)

"Yang paling dekat dengan kehidupan adalah kematian," demikian kata Imam Al Ghazali. Kalimat singkat ini mengingatkan kita bahwa di balik kehidupan ini kematian selalu siap menanti. Cepat lambatnya, merupakan rahasia llahi, Terkadang tanpa kita duga. Karena itulah selagi kita hidup seharusnya senantiasa mempersiapkan diri dengan banyak berbuat amal ibadah sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Sebab, jika maut tiba sedangkan kita masih dalam terlena dalam kehidupan duniawi dan enggan beribadah padaNya, maka penyesalan pun tak ada gunanya lagi.

Proses datangnya kematian yang dialami manusia memang beragam. Begitu juga dengan adanya berbagai pertanda baik-buruknya kematian.

Banyak kisah kematian manusia yang mengisyaratkan 'pertanda buruk' yang menyedihkan dan banyak pula kisah kematian yang menj'adi 'pertanda baik' yang menggembirakan. Salah satu kematian yang menjadi pertanda baik itu dialami oleh Mamat (75), seorang mu'allim (ustaz) di Desa Petir, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor.

Almarhum semasa hidup

Semasa mudanya Mamat sudatrmemiliki bekal agama yang cukup. Selain lulusan Madrasah 'Aliyah (setingkat SMU), dia juga pernah nyantri di pesantren. Berbekal ilmu yang dimilikinya, ia mengajar di pengajian ibu-ibu dan anak-anak remaja di kampungnya sehingga masyarakat mengenalnya sebagai ustaz dan warga menyebutnya Mu'allim Mamat.

Dalam membangun rumah tangga, Mu'allim Mamat termasuk kurang beruntung. Karena setelah dua puluh lima tahun berkeluarga, ada orang ketiga yang sengaja memperkeruh suasana keluarga tersebut. Kemudian terungkaplah bahwa orang ketiga ini seorang lelaki yang ternyata menyukai Omah, istri Mu'allim Mamat. Kabarnya atas pengaruh lelaki itu dan entah karena apa lagi, Omah pun bersedia mengajukan cerai ke Kantor Urusan Agama (KUA) yang juga diantar oleh laki-laki tersebut. Setelah cerai, Omah kemudian menikah dengan si lelaki tadi.

Mu'allim Mamat hanya pasrah, Untunglah pada saat itu, Maemunah, anak satu-satunya dari hasil perkawinan mereka, sudah dewasa bahkan sudah bersuami dan dikaruniai anak, sehingga ia bisa iebih bijaksana memahami dan menghadapi persoalan tersebut.

Setelah kejadian itu Mu'allim Mamat sering bepergian ke Jakarta, terkadang cukup lama dan jarang pulang. Bahkan pada saat pernikahan cucu sulungnya (anakdari Maemunah), Nunung Nurhayati, ia pun tidak tahu. Pasalnya, ketika salah saorang anggota keluarga menyusulnya ke Jakarta, Mu'allim Mamat tidak ada di tempat, dan tidak ada yang tahu pasti di mana dia saat itu berada. Kabarnya ia tengah menyelesaikan suatu masalah pekerjaan, entah apa persisnya.

Ketika ia pulang barulah ia tahu bahwa suami cucunya itu adalah Abdullah Mubarok, yang ternyata seorang kyai muda. Dalam silaturahmi dan berbincang mongenai masalah keagamaan, Mu'allim Mamat mengakui keunggulan ilmu agama lelaki tersebut.

"Walau ilmu cucu mantu lebih tinggi dari ilmu abah (kakek-red), tapi abah ingin memberikan pandangan. Tolong urus warga, bawalah mereka ke jalan yang diridhai Allah," pinta Mu'allim Mamat.

Sepertinya Mu'allim Mamat merasa bangga dengan keberadaan Kyai Abdullah Mubarok menjadi suami cucunya, Apalagi kemudian Kyai Abdullah Mubarok pergi haji bersama istrinya lalu mengelola pondok pesantren Al Mujahidin di kampung tersebut. Tak ayal lagi, hubungan kakek dan cucu mantu itu semakin lama semakin akrab, bahkan dapat dikatakan sudah seperti hubungan antara ayah dan anak.

Mu'allim di mata masyarakat dan keluarga

Para warga sekitar mengenal Mu'allim Mamat sebagai seorang guru ngaji yang ramah dan suka menolong terutama tetangga-tetangganya. Baginya berbuat baik terhadap tetangga merupakan suatu keharusan. Karena itulah Mu'allim Mamat selalu mengingatkan agar anak dan cucu-cucunya bersikap ramah dan berbuat baik terhadap mereka.

Dalam hal ibadah, para anggota keluarga mengenal Mu'allim Mamat sebagai sosok orang tua yang sangat rajin beribadah, tidak hanya melakukan ibadah yang wajib hukumnya tapi juga yang sunah-sunahnya. Bahkan KH Abdullah Mubarok mengaku, dirinya merasa salut dengan ketekunan kakek dari istrinya itu dalam menjalankan ajaran agamanya.

"Salah satu ibadah Mu'allim Mamat yang membuat saya merasa salut adalah ketekunannya dalam membaca Al Quran," tegas KH Abdullah Mubarok. Kesalutan sang kyai memang beralasan, sebab Mu'ailim Mamat sering mengkhatamkan (membaca sampai tamat) Al Quran selama empat puluh hari. Bahkan terkadang hanya satu bulan, Apalagi sang mu'allim saat itu usianya sudah kepala tujuh.

Dalam menerapkan ajaran Islam pada keluarga, Mu'allim Mamat sangat disiplin, bahkan ketika azan baru terdengar, segala aktivitas di dalam rumah diusahakan segera dihentikan atau ditunda untuk bersiap-siap mengambil wudhu dan melaksanakan shalat.

Malam terakhir

Suatu malam, tepatnya Rabu malam, sehabis shalat isya, Mu'allim Mamat sepertibiasanya membaca Al Quran di masjid dekat rumahnya, Tapi malam itu membaca Al Quran diiringi isak tangis yang membuat KH Abdullah Mubarok merasa terharu mendengarnya. Berjam-jam lelaki tua itu mengumandangkan ayat-ayat Hani seiring dengan isak tangisnya yang beberapa kali sempat terdengar. Kemudian ketika jarum jam di masjid hampir menunjukan pukul tiga tepat, Mu'allim Mamat menyudahi bacaannya dan setelah pamit pada KH Abdullah Mubarok, ia pun pulang.

Lebih dari satu jam kemudian, suara' azan subuh berkumandang dari masjid itu, Mu'allim Mamat kembali ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah. Seperti biasa, sebelumnya ia selalu menyempatkan diri untuk shalat sunah qabliyah. Ketika duduk bersimpuh membaca tahiyat dalam shalat qabliyah itu, tiba-tiba Mu'allim Mamat sesaat terbatuk-batuk dan tubuhnya rubuh ke samping. KH Abdullah yang sudah lebih dulu berada di sana dan melihat kejadian itu, dengan sigap menyangga tubuh Mu'ailim Mamat. Sesaat kemudian lelaki sepuh itu meninggal dunia dalam pangkuan cucunya.

Sang kyai dibantu beberapa warga dan diiringi sejumlah santri yang berada di dalam masjid segera membawa jenazah Mu'allim Mamat ke rumah KH Abdullah yang berada persis di depan masjid. Anggota keluarga yang tinggal cucu dan cicit-cicitnya itu merasa sangat terkejut mengetahui kematian mu'allim yang tiba-tiba. Apalagi setanu mereka kondisi kesehatan Mu'allim Mamat cukup baik dan setahu mereka aimarhum tidak mengidap penyakit apa-apa.

KH Abdullah dan beberapa warga tadi kembali ke masjid untuk melaksanakanshalat subuh berjamaah. Usai shalat, kyai itu mengumumkan melalui pengeras suara di masjid bahwa Mu'allim Mamat telah berpulang ke rahmatullah.

Pagi hari itu, para warga pun segera berbondong-bondong melayat Mu'ailim Mamat. Salah seorang tetangga almarhum, Wahid (45), mengungkapkan keterkejutannya dengan meninggalnya Mu'allim Mamat. Sebab tidak sampai setengah jam sebelum ia mendengar pengumuman meninggalnya sang mu'allim dari pengeras suara di masjid, ia sempat bertemu dengan mu'allim yang katanya akan bepergian jauh. Bahkan ia sempat memperhatikan perginya mu'allim itu hingga ke jalan raya.

KH Abdullah teringat dengan kebiasaan aimarhum yang sering membaca, "Wa laqad jaakum..." salah satu ayat dari surat Al Baqarah setiap sehabis shalat magrib di masjid. Namun pada magrib sebelum meninggalnya Mu'allim Mamat tidak membaca ayat tersebut melainkan langsung pulang.
KH Abdullah kemudian mengutip pendapat ulama yang mengatakan bahwa siapa yang membaca ayat itu dalam satu hari, maka Allah tidak akan mencabut nyawanya pada hari itu.

"Jadi kalau mengacu pada pendapat ulama tersebut, ada benarnya," ujar KH Abdullah. Pada magrib sebelum kematian Mu'allim Mamat, ia tidak membaca ayat itu.

Kini yang tertinggal dari keluarga Mu'allim Mamat hanyalah cucu-cucunya. Sebab Omah, mantan istrinya, dan Maemunah, anak satu-satunya (yang menjadi mertua dari KH Abdullah Mubarok) sudah lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa.

Bagi KH Abdullah Mubarok, kepergian abadi kakek mertuanya seperti kehilangan seorang ayah yang sangat bijaksana. Menurutnya dia adalah sosok lelaki yang bisa dijadikan tauladan dalam keluarganya.

Demikianlah kisah kematian seorang 'manusia shaleh, yang meskipun sudah cukup lama, namun di balik kisahnya sarat dengan hikmah.

Berbahagia mereka yang mati ketika sedang beribadah kepada Allah SWT. Rugi mereka yang mati ketika sedang bergelimang dosa, tak sempat atau enggan beribadah dan pelum sempat bertobat.



KH. Abdullah Mubarok (50):

"Dulu sebelum meninggal, almarhum berucap kepada saya akan menyumbangkan sejumlah uang untuk pembangunan pesantren setelah tanahnya laku terjual. Setelah beliau meninggal dan tanahnya laku terjual, maka sesuai dengan amanatnya, saya sumbangkan uang tersebut untuk pembangunan pesantren," kenang KH Abdullah.

"Salah satu pesan almarhum saat masih hidup dan saya akan berusaha selalu melaksanakannya adalah : Berbuat baiklah terhadap tetangga dan bimbinglah masyarakat ke jalan yang diridhai Allah," tambahnya.

Sumber :  Sopian, amanah.or.id
 
 
 

 melalui internet, www.gesah.net  *                                    
  Bismillahirohmaanirrohimmmm                                  
 Dengan Nama Allah yang Meha pengasih Lagi Maha Penyayang                                                                           
                                                                            
 Ada seorang pemuda arab yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di   
 Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah     
 berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya. Selain         
 belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika, ia   
 berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab,    
 dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam.            
                                                                            
 Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di     
 Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung       
 tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja. Semula 
 ia berkeberatan. Namun karena ia terus mendesak akhirnya pemuda itupun     
 memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah  
 satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pendeta    
 masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas        
 kembali duduk.                                                             
                                                                            
 Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika melihat kepada para hadirin  
 dan berkata, "Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari  
 sini." Pemuda arab itu tidak bergeming dari tempatnya. Pendeta tersebut    
 mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap tidak bergeming     
 dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata, "Aku minta ia keluar  
 dari sini dan aku menjamin keselamatannya." Barulah pemuda ini beranjak    
 keluar.                                                                    
                                                                            
 Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pendeta, "Bagaimana anda tahu      
 bahwa saya seorang muslim." Pendeta itu menjawab, "Dari tanda yang         
 terdapat di wajahmu." Kemudian ia beranjak hendak keluar. Namun sang       
 pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini, yaitu dengan mengajukan  
 beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memojokkan pemuda tersebut dan        
 sekaligus mengokohkan markasnya. Pemuda muslim itupun menerima tantangan   
 debat tersebut.                                                            
                                                                            
 Sang pendeta berkata, "Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan   
 anda harus menjawabnya dengan tepat."Si pemuda tersenyum dan berkata,      
 "Silakan!                                                                  
                                                                            
 Sang pendeta pun mulai bertanya,                                           
                                                                            
 1.Sebutkan satu yang tiada duanya,                                         
 2.dua yang tiada tiganya,                                                  
 3.tiga yang tiada empatnya,                                                
 4.empat yang tiada limanya,                                                
 5.lima yang tiada enamnya,                                                 
 6.enam yang tiada tujuhnya,                                                
 7.tujuh yang tiada delapannya,                                             
 8.delapan yang tiada sembilannya,                                          
 9.sembilan yang tiada sepuluhnya,                                          
 10.sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,                                  
 11.sebelas yang tiada dua belasnya,                                        
 12.dua belas yang tiada tiga belasnya,                                     
 13.tiga belas yang tiada empat belasnya.                                   
 14.Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!         
 15.Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya?               
 16.Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?                      
 17.Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya?     
 18.Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!       
 19.Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan   
 siapakah yang terpelihara dari api?                                        
 20.Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diadzab dengan batu dan 
 siapakah yang terpelihara dari batu?                                       
 21.Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!              
 22.Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30     
 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah    
 sinaran matahari?"                                                         
                                                                            
 Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu tersenyum dengan senyuman         
 mengandung keyakinan kepada Allah. Setelah membaca basmalah ia berkata, -  
                                                                            
 1.Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.                                  
 2.Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah SWT berfirman, "Dan  
 Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami)."          
 (Al-Isra': 12).                                                            
 3.Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa      
 ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan       
 ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.                       
 4.Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur'an.      
 5.Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.                         
 6.Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ketika Allah SWT menciptakan  
 makhluk.                                                                   
 7.Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis. Allah SWT     
 berfirman, "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu       
 sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang 
 tidak seimbang." (Al-Mulk: 3).                                             
 8.Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-Rahman.    
 Allah SWT berfirman, "Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru      
 langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat men-junjung 'Arsy Rabbmu  
 di atas (kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).                                  
 9.Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu'jizat yang diberikan kepada     
 Nabi Musa yaitu: tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim        
 paceklik, katak, darah, kutu dan belalang.*                                
 10.Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah kebaikan. Allah SWT         
 berfirman, "Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali   
 lipat." (Al-An'am: 160).                                                   
 11.Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudara Nabi Yusuf 
 .                                                                          
 12.Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu'jizat Nabi Musa yang        
 terdapat dalam firman Allah, "Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk 
 kaumnya, lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu   
 memancarlah daripadanya dua belas mata air." (Al-Baqarah: 60).             
 13.Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Nabi Yusuf    
 ditambah dengan ayah dan ibunya.                                           
 14.Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu     
 Shubuh. Allah SWT ber-firman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai      
 menyingsing." (At-Takwir: 18).                                             
 15.Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus AS.     
 16.Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara  
 Nabi Yusuf , yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah kami, 
 sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat  
 barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala." Setelah kedustaan          
 terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, " tak ada cercaaan terhadap        
 kalian." Dan ayah mereka Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagimu 
 kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha          
 Penyayang." (Yusuf:98)                                                     
 17.Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara        
 keledai. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah     
 suara keledai." (Luqman: 19).                                              
 18.Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam,     
 malaikat, unta Nabi Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.                       
 19.-Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api 
 ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah   
 SWT berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim." (Al-Anbiya':  
 69).                                                                       
 20.Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang diadzab    
 dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah  
 Ash-habul Kahfi (penghuni gua).                                            
 21.Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah tipu    
 daya wanita, sebagaimana firman Allah SWT? "Sesungguhnya tipu daya kaum    
 wanita itu sangatlah besar." (Yusuf: 28).                                  
 22.Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, 
 setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran  
 matahari maknanya: Pohon adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah   
 hari dan buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam   
 hari dan dua di siang hari.                                                
                                                                            
 Pendeta dan para hadirin merasa takjub mende-ngar jawaban pemuda muslim    
 tersebut. Kemudian ia pamit dan beranjak hendak pergi. Namun ia            
 mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu         
 pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pendeta. Pemuda ini    
 berkata, "Apakah kunci surga itu?" mendengar pertanyaan itu lidah sang     
 pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun    
 berubah. Ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil. 
 Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab       
 pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.                           
                                                                            
 Mereka berkata, "Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan        
 semuanya ia jawab, sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun anda 
 tidak mampu menjawabnya!"                                                  
 Pendeta tersebut berkata, "Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan  
 tersebut, namun aku takut kalian marah." Mereka menjawab, "Kami akan jamin 
 keselamatan anda."                                                         
                                                                            
 Sang pendeta pun berkata, "Jawabannya ialah:
 
Asyhadu an La Ilaha Illallah  
 wa Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah."                                 
                                                                            
 Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk agama 
 Islam. Sungguh Allah telah menganugrahkan kebaikan dan menjaga mereka      
 dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.**
  

Dua Pertanda Kebaikan...
 
'Bila kamu shalat, jadikanlah itu seolah-olah shalat orang yang mengucapkan selamat tinggal." (Hadis)

Kisah ini menceritakan tentang kemuliaan Nana (71) seorang wanita yang wafat ketika shalat subuh dan mayatnya masih utuh setelah lima belas tahun dikubur. Walaupun kisah yang terjadi ini sudah cukup lama, namun peristiwa tersebut dapat dijadikan iktibar sekaligus memberi hikmah bagi kita yang masih hidup.

Bagaimana kisah hidup wanita tersebut hingga ia meninggal dalam keadaan husnul khatimah yang terlihat pada keajaiban jasadnya itu? Silahkan Anda simak kisah ini sampai tuntas.

Jejen (40-an) menceritakan bahwa peristiwa kematian ibunya sangat tiba-tiba dan tanpa diduga sama sekali. Sebelum ajal menjemput, menurut Jejen, tidak ada firasat apa pun. Tidak juga ada pertanda kalau ibunya sedang sakit. Semuanya berjalan normal, Malam itu, ketika Jejen hendak shalat Isya, seperti biasa Jejen melihat ibunya sudah lebih dahulu melaksanakan shalat Isya di kamarnya.

Beberapa saat setelah usai shalat, lantunan ayat-ayat Al Quran dari kamar ibunya terdengar jelas di kamar Jejen. Ketika Jejen sudah berada di atas dipannya, lamat-Iamat suara ibunya membaca Al Quran terdengar mengiringi rasa kantuknya. Sedangkan suasana malam yang begitu senyap membuat Jejen semakin tak mampu lagi terjaga, Ia lelap tertidur.

Waktu terus merambat. Tak terasa malam pun berganti memasuki dini hari. Ketika waktu Subuh telah tiba, seperti biasanya Nana terjaga dengan sendirinya dan bergegas mengambil wudhu, Sedangkan suara gemercik air saat ibunya mengambil wudhu membangunkan Jejen dari tidurnya. Tak lama kemudian, melalui celah-celah dinding gedeg pemisah kamar mereka, secara perlahan Jejen mendengar bacaan shalat yang keluar dari mulut ibunya.

Ketika sedang asyik mendengarkan bacaan Qunut yang dilantunkan ibunya, seketika itu juga Jejen terhentak dan beranjak dari tempat tidurnya, karena dia mendengar suara seperti orang jatuh dari kamar ibunya. "Bruuuk !" Suara itu cukup keras.

Ketika dilihat, Jejen menemukan ibunya sudah tersungkur dalam posisi miring. Sementara kedua tangannya masih dalam posisi menengadah, sebagaimana layaknya orang yang tengah berdoa. Dalam situasi yang amat panik itu, Jejen hanya bisa berteriak memanggil-manggil ibunya.

"Ibu! Ibu!" teriak Jejen sembari mengguncang-guncang tubuh perempuan tua itu. Tapi sang ibu hanya diam, tak bergerak sedikit pun. Jejen segera memeriksa denyut nadi ibunya, dan alangkah terkejutnya Jejen, ketika mengetahui nadi di pergelangan tangan wanita tua tersebut sudah tidak berdenyut lagi. "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Itulah kalimat yang terucap saat Jejen mengetahui bahwa ibunya telah wafat.

Betapa indahnya kematian yang dialami perempuan berusia 71 tahun ini. Ia berpulang masih dalam keadaan suci, masih memiliki wudhu, serta ketika sedang melaksanakan shalat Subuh. Inilah salah satu pertanda seorang manusia yang dipanggil Tuhannya dalam keadaan husnul khatimah.

Keliling kampung

Sekitar sebulan sebelum kematian wanita itu, Jejen bercerita bahwa ibunya sempat berkeliling kampung. Ia mendatangi semua orang yang dikenalnya untuk meminta maaf apabila ada kesalahan baik sengaja atau tidak disengaja. Bahkan ketika berpapasan dengan orang-orang yang tidak dikenalnya pun ia sempat meminta maaf kepada mereka. Siapa sangka hal ini merupakan suatu pertanda bahwa ia akan segera meninggal.

Perbuatan ibunya seperti itu menurut Jejen memang sempat mengundang perhatian banyak orang. Ada saja orang yang mencemooh Nana dan menganggapnya seperti orang yang kurang waras dan kurang kerjaan.

"Biarin ibu disebut gila, Jen. Ibu sih sabar wae. Masak orang gila suka shalat, suka mengaji," kenang Jejen menirukan perkataan ibunya.

Setelah meninggal, jenazah Nana dikebumikan di atas tanah miliknya di sekitar rumahnya. Hal ini memang pesan Nana kepada Jejen selagi masih hidup.

Limabelas tahun kemudian

Tanpa terasa kepergian ibunya sudah berjalan sekitar 15 tahun. Dalam masa yang panjang itu Jejen sudah dikarunia dua orang anak dari pernikahannya dengan Fatimah, wanita yang sengaja dipilihkan ibunya untuk mendampingi Jejen.

Suatu ketika, tiba-tiba muncul peristiwa di mana diketahui bahwa tanah waris ibunya telah berpindah tangan. Menurut pengakuan Jejen, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa ketika muncul sosok yang mengaku sebagai ahli waris ibunya. Secara singkat Jejen menceritakan bahwa tanah yang ditempatinya itu adalah hak saudara ibunya. Sayang ketika ibunya meninggal, Jejen tidak mendapat wasiat maupun hak waris mengenai tanah yang ditempatinya itu. Ibunya pun tak sempat bercerita mengenai asal muasal tanah itu.

Karena di antara tetangga ada yang mengetahui bahwa orang yang mengaku berhak atas tanah itu memang salah satu keluarga almarhumah, membuat posisi Jejen semakin lemah. Agar tidak terjadi keributan lebih panjang, Jejen akhirnya pasrah dan membiarkan orang tersebut menguasai tanah yang diakui sebagai haknya. Masalahnya adalah di atas tanah tersebut terdapat makam ibu Jejen sedangkan tanah itu akan segera dijual oleh yang bersangkutan. Maka atas kesepakatan dalam musyawarah keluarga yang dihadiri oleh para tokoh masyarakat setempat, makam Nana akan dipindahkan ke tempat lain.

Penggalian kuburan

Penggalian kuburan pun dilakukan dan dipimpin oleh Ustadz Suhad, tokoh agama setempat yang juga guru mengaji almarhumah. Proses penggalian berlangsung lancar. Dari lubang kubur, ternyata mayat Nana masih terbungkus kain kafan. Peristiwa itu membuat Jejen, Ustadz Suhad serta beberapa orang yang turut menggali atau menyaksikannya terkejut.

Setelah diangkat, Jenazah Nana masih utuh layaknya jenazah baru yang akan dimakamkan. Daging yang melekat di tubuh Nana tidak terasa lembek di tangan orang yang mengangkatnya. Jenazah Nana seperti tidak termakan oleh waktu dan tanah.

Keadaan ini memang tidak masuk akal. Sebab kematian Nana sudah berselang 15 tahun yang silam. Logisnya kain kafan dan seluruh tubuh Nana sudah hancur kecuali tinggal tulang belulangnya. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Jenazah Nana masih utuh.

Inilah kekuasaan Allah SWT. Tidak ada yang tidak mungkin bila Dia menghendaki. Sebab dalam Al Quran Allah pun berfirman yang artinya : "Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendakNya) tidak ada yang dapat menolak ketetapanNya. Dan Dialah yang maha cepat hisabnya." (Ar Ra'd 13 : 41).

Karena kejadian ini sempat menghebohkan warga sekitar, maka sebelum jenazah itu dikuburkan kembali di tempat lain, masyarakat berduyun-duyun melihat secara dekat. Peristiwa ini pun langsung menjadi bahan perbincangan. Banyak orang ingin mengetahui bagaimana sesungguhnya sosok Nana semasa hidup.

Dari mengadopsi yatim sampai menjodohkannya

Jejen menceritakan bahwa semasa mudanya Nana adalah wanita yang kurang beruntung dalam kehidupan berumah tangga. Ia mengalami empat kali pernikahan, tetapi keempat-empatnya gagal, alias berakhir dengan perceraian. Pada pernikahannya yang keempat, Nana mengadopsi seorang anak laki-laki yang masih berusia 2 tahun. Anak laki-laki itu adatah Jejen. Sedangkan ibu kandung Jejen yang diketahui telah menikah dengan seorang pria dari Sumatera Selatan, pergi bersama suaminya.

Meski Jejen adalah anak angkat, Nana memperlakukannya seperti anak kandungnya. Meski Nana begitu menyayangi Jejen, ia tetap disiplin dalam menanamkan nilai-nilai agama. Nana berprinsip, anak merupakan titipan Allah.

"Beliau memang agak cerewet, tetapi sesungguhnya orangnya sangat baik. Ketika saya masih kecil, saat beliau menyuruh saya shalat, beliau akan terus menyuruh saya hingga saya benar-benar mengerjakan shalat," kenang Jejen mengingat kebaikan ibu angkatnya itu.

Kebaikan Nana terhadap Jejen, memang tidak perlu diragukan. Hal itu dirasakan betul oleh Jejen. Bahkan selama hidupnya ia tidak pernah merasa dimarahi apalagi sampai ada hukuman fisik.

Ketika Jejen sudah cukup dewasa, perhatian dan kasih sayang Nana terhadap anak angkatnya itu tetap tidak berubah. Bahkan Nana pula yang menjodohkan Jejen pada seorang wanita yang kini menjadi istrinya. Kala itu Nana menganggap Jejen tidak pandai dalam memilih calon istri.

"Kamu nggak bakalan bisa memilih calon istri, ibu saja yang memilihkan. Cari istri itu yang getol ibadahnya, sayang sama kamu, sayang juga sama ibu. Ibu ada calon untuk kamu. Dia itu cucunya kiyai." Jejen mencoba meniru ucapan ibunya.

Jejen mengaku, sampai saat ini ia merasakan betul kebenaran ucapan almarhumah ibunya tentang Fatimah, istri Jejen yang dipilihkan ibunya itu.

Taat ibadah dan hormat pada guru

Nana adalah sosok wanita yang taat dan rajin dalam menjalankan ajaran agamanya. Tidak hanya shalat lima waktu, tahajud, shalat sunah lainnya pun seringkali dilakukannya. Puasa dan zakat tidak pernah luput dari perhatiannya termasuk puasa-puasa sunahnya. Sedangkan lantunan ayat suci Al Quran hampir setiap malam dikumandangkannya.

"Yang saya ingat, ibu sering sekali membaca surat Al Mulk dan Al Waqiah," tutur Jejen.

Selain itu, Nana pun sangat menyenangi menghadiri majelis-majelis pengajian di kampungnya hingga kampung tetangga. Dalam seminggu paling tidak, Nana mengunjungi tiga tempat majelis pengajian secara rutin.

Terhadap guru mengajinya, Nana sangat menghormati dan mencintainya. Hal itu diperlihatkan dengan sering membantu gurunya dalam sisi ekonomi. Misalnya sering memberi/mengantarkan makanan dan kadang kala uang. Semasa hidupnya, kata Jejen, ibunya pernah mendambakan untuk bisa menunaikan ibadah haji. Namun karena kondisi ekonomi tidak memungkinkan, hal itu hanya tinggal keinginan. Selain itu, Nana pun berkeinginan untuk memiliki sebuah pesantren. Namun meskipun keinginan ini juga tidak terlaksana, ia sempat mewakafkan sebidang tanah yang kemudian di atas tanah itu berdiri Pesantren Al Jiddi yang kepemimpinannya dipercayakan kepada Ustadz Suhad.

Dalam kehidupannya yang sederhana, Nana dikenal para tetangganya sebagai orang yang dermawan, taat beribadah, dan dapat menjadi contoh bagi wanita-wanita lain. Mereka melihat pada diri Nana suatu pelajaran bahwa hidup manusia tidak berarti apa-apa jika jauh dari Allah SWT. Karenanya mendekatkan diri pada-Nya setiap saat merupakan jalan yang terbaik sebelum maut menjemput.

l.jpg

Terimakasih atas kunjungan anda di halaman ini ...